Matanya berkaca-kaca ia mencoba menahan air matanya. Ia bertumpu dengan sofa, lalu ia gerakkan atas bawah.“Ohh….wan…enak wan…”, katanya.“Ohhh…mbak…Mbak Dewi…ahhh…”, kataku.Dadanya naik turun. Bokepsubindo Hari itu juga jantungku berdebar. Aku memberinya sebuah gaun berwarna hitam yang mewan.“Indah sekali, berapa harganya?”, tanyanya.“Ah nggak usah dipikirkan mbak”, kataku sambil tersenyum. Jempol kaki adalah bagian paling sensitif bagi wanita.“Tidak wan, jangan….AAAHH”, mbak Dewi memiawik.“Kenapa mbak?” kataku.Tangannya mencengkram lenganku. Banyak sekali hal-hal yang bisa aku ketahui dari mbak Dewi. Aku pun mencoba menguping.“Apa yang harus aku lakukan?….Apa…”Aku menunduk, mungkin mbak Dewi kaget setelah pengakuanku tadi. Sebab aku tidak suka mereka. Semenjak itu pula aku menyimpan perasaanku, dan merasa nyaman ketika berada di samping mbak Dewi. Dari kesukaannya, dari pengalaman hidupnya.




















